{"id":8129,"date":"2019-09-30T18:22:26","date_gmt":"2019-09-30T11:22:26","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=8129"},"modified":"2019-09-30T18:22:26","modified_gmt":"2019-09-30T11:22:26","slug":"gubernur-minta-pengembang-properti-utamakan-fasilitas-olahraga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2019\/09\/30\/gubernur-minta-pengembang-properti-utamakan-fasilitas-olahraga\/","title":{"rendered":"Gubernur Minta Pengembang Properti Utamakan Fasilitas Olahraga"},"content":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (Journal):  Tidak hanya fasilitas umum, Gubernur Lampung Arinal Djunadi meminta setiap pengambang properti yang ingin berinvestasi di Lampung dapat menyediakan sarana olah raga yang berintegrasi dengan pengembangan sendi dan budaya. <\/p>\n<p>\u201dSilahkan investasi properti. Tapi prioritaskan sarana olah raga. Baik lapangan bulu tangkis, tenis meja, lapangan volley dan yang lainnya,\u201d terang Gubernur saat menerima Direktur Utama PT Way Halim Tomy Soekiato Sanjoto beserta jajarannya di Ruang Kerja Gubernur Senin (30\/9\/2019).<\/p>\n<p>Manfaat positif dari terbangunnya fasilitas olah raga, pertama dapat menciptakan situasi harmonis di setiap lingkungan, terlebih sarana yang dibangun sesuai standar. \u201dKedua memupuk silahturahmi, dan ketika, kita ikut andil membangun pembinaan olah raga, meski skalanya di tingkat lingkungan,\u201d terangnya. <\/p>\n<p>Ditambahkan Gubernur, jika setiap pengembang properti di Lampung membangun wahana olah raga dan memiliki komitmen itu, hampir pasti di setiap daerah, memiliki bibit-bibit unggul. \u201dAnda bayangkan, setiap wilayah memiliki basis sarana dan pengembangan olah raga. Lalu dilengkapi pula dengan fasilitas pengembangan budaya dan seni, dampaknya jelas akan terasa di masyarakat,\u201d imbuhnya. <\/p>\n<p>Di sisi lain, Gubernur juga miminta pengembangan properti wajib memperhatikan lokasi dan kajian lingkungan. \u201dPendekatan kultural juga sangan penting. Termasuk Detail Engginering Desain (DED), tata ruangnya maupun dokumen administratifnya legal. Agar ke depan tidak muncul masalah\u201d, tegasnya. <\/p>\n<p>Dalam kesempatan yang sama, Asisten Direktur PT. Way Halim Sean Edbert Sanjoto juga mempresentasikan rencana pengembangan kawasan way halim sebagai kawasan dengan konsep Integrated development.<\/p>\n<p>\u201dTentu kami senang hati mendukung program Gubernur untuk mewujudkan di sektor olah raga. Terlebih dengan tag line Lampung Berjaya,\u201d imbuhnya.<br \/>\nMelalui pembangunan dan konsep yang ada, Edbert yakin akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat, \u201dApalagi, barometernya pada sisi kebudayaan yang terintegrasi dengan kawasan hunian,\u201d ujarnya. <\/p>\n<p>Dalam desain yang dipaparkan, PT. Way Halim berencana membangun kawasan mall yang terintegrasi, hotel, sky business park, office tower, apartement, hingga sky road parking.<br \/>\nKawasan ini dibangun degan metode mixed-use development yang akan menyediakan segala fasilitas di dalam area pengembangannya. Mulai dari hunian, perkantoran, sekolah, tempat hiburan, perbelanjaan, rekreasi, bahkan sistem transportasinya pun dipikirkan dengan matang.<\/p>\n<p>\u201dDan yang lebih penting dari semua hal tersebut kami mmemastikan legalitas dan kajian lingkungan telah dilakukan sebelum pelaksanaan pembangunan kami laksanakan,\u201d pungkas Edbert. <\/p>\n<p>Sumber: Humas Pemprov<br \/>\n320<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (Journal): Tidak hanya fasilitas umum, Gubernur Lampung Arinal Djunadi meminta setiap pengambang properti yang ingin berinvestasi di Lampung dapat menyediakan sarana olah raga yang berintegrasi dengan pengembangan sendi dan budaya. \u201dSilahkan investasi properti. Tapi prioritaskan sarana olah raga. Baik lapangan bulu tangkis, tenis meja, lapangan volley dan yang lainnya,\u201d terang Gubernur saat menerima [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8130,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-8129","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bandarlampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8129","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8129"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8129\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8131,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8129\/revisions\/8131"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8129"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8129"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8129"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}