{"id":7820,"date":"2019-09-18T20:33:14","date_gmt":"2019-09-18T13:33:14","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=7820"},"modified":"2019-09-18T20:33:14","modified_gmt":"2019-09-18T13:33:14","slug":"gubernur-arinal-instruksikan-jajarannya-bantu-wujudkan-program-study-s1-bahasa-lampung-di-unila","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2019\/09\/18\/gubernur-arinal-instruksikan-jajarannya-bantu-wujudkan-program-study-s1-bahasa-lampung-di-unila\/","title":{"rendered":"Gubernur Arinal Instruksikan Jajarannya Bantu Wujudkan Program Study S1 Bahasa Lampung di Unila"},"content":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (Journal): Gubernur Lampung Arinal Djunaidi menginstruksikan jajarannya segera membantu Universitas Lampung  (Unila) mewujudkan Program Studi Strata Satu ( S1) Bahasa Lampung.<\/p>\n<p>\u201cSaya ingin Kepala Dinas Pendidikan segera memfasilitasi dan mengatur pertemuan antara Unila dan  Wakil Gubernur Chusnunia untuk mengkaji  hal \u2013 hal yang perlu disiapkan segera untuk merealisasikan terbentuknya Program S1 Bahasa Lampung di Unila,\u201d ujar Gubernur Arinal saat beraudiensi dengan Tim Kerja Pendirian Study S \u2013 1 Pendidikan Bahasa Lampung Unila, di Ruang Kerja Gubernur Rabu ( 18\/9\/2019).<\/p>\n<p>Menurut Gubernur, Bahasa Lampung harus dilestarikan di samping bahasa nasional. Sebab, tidak banyak daerah di Indonesia memiliki kekayaan budaya bahasa sekaligus memiliki aksara seperti Lampung. <\/p>\n<p>Keberadaan Program Study S1 Bahasa Lampung diharapkan mampu memberikan pembelajaran bahasa dan sastra daerah berbasis multikultural. Selain itu, dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap nilai-nilai perbedaan dan keberagaman yang melekat pada kehidupan lokal.<\/p>\n<p>\u201cBelajar bahasa Lampung merupakan hal yang  sangat potensial dalam membangun cara pandang generasi muda yang berwawasan nasionalis, mengedepankan kearifan lokal dan membangun identitas diri generasi muda menghadapi era globalisasi ini,&#8221; kata Gubernur.<\/p>\n<p>Arinal berharap dengan adanya Program Study ini membuat pembelajaran bahasa, budaya, dan kearifan lokal terjaga. Hal ini karena Unila akan mencetak calon \u2013 calon pendidik yang akan menjadi  guru \u2013 guru di sekolah  &#8211; sekolah di seluruh Lampung.<\/p>\n<p>Gubernur berpesan agar metode pembelajaran  yang akan digunakan nanti mampu mengakomodir keberagaman bahasa dan budaya yang ada di Lampung.<\/p>\n<p>\u201cTapi perlu diperhatikan juga, jika Program Study S1 Bahasa Lampung ini telah terealisasi agar dapat mengakomodir beragam bahasa yang telah ada di Lampung. Jadikan Bahasa Lampung sebagai perekat persaudaraan dan pemersatu bangsa,\u201d lanjut Gubernur.<\/p>\n<p>Sementara itu, Rektor Unila Hasriadi Mat Akin menyampaikan penghargaan terhadap  komitmen Gubenur Lampung dalam dunia Pendidikan di Lampung. Unila sudah berulangkali mengajukan pembukaan Prodi Bahasa Lampung, namun baru tahun ini dapat berkomunikasi dengan Pemprov.<\/p>\n<p> \u201cSaat ini Unila telah memperoleh restu dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk membuka program studi S1 Bahasa Lampung, namun sebelumnya kami perlu berkoordinasi dengan pemerintah daerah mengenai kebutuhan guru Bahasa Lampung yang akan diproduksi. Hal ini berkaitan dengan jumlah lulusan yang dapat terserap di lapangan kerja,\u201d tutur Hasriadi.<\/p>\n<p>Pada kesempatan yang sama Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unila Patuan Raja mengatakan saat ini Unila sudah membuka S2 Program Studi Bahasa Lampung. <\/p>\n<p>Sumber: Humas Pemprov<br \/>\n350<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (Journal): Gubernur Lampung Arinal Djunaidi menginstruksikan jajarannya segera membantu Universitas Lampung (Unila) mewujudkan Program Studi Strata Satu ( S1) Bahasa Lampung. \u201cSaya ingin Kepala Dinas Pendidikan segera memfasilitasi dan mengatur pertemuan antara Unila dan Wakil Gubernur Chusnunia untuk mengkaji hal \u2013 hal yang perlu disiapkan segera untuk merealisasikan terbentuknya Program S1 Bahasa Lampung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7821,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-7820","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bandarlampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7820","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7820"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7820\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7822,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7820\/revisions\/7822"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7821"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7820"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7820"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7820"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}