{"id":24807,"date":"2026-02-26T22:37:40","date_gmt":"2026-02-26T15:37:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=24807"},"modified":"2026-02-26T22:37:40","modified_gmt":"2026-02-26T15:37:40","slug":"setahun-mirza-jihan-konsolidasi-di-tengah-keterbatasan-fiskal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2026\/02\/26\/setahun-mirza-jihan-konsolidasi-di-tengah-keterbatasan-fiskal\/","title":{"rendered":"Setahun Mirza\u2013Jihan: Konsolidasi di Tengah Keterbatasan Fiskal"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_24585\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-24585\" class=\"size-medium wp-image-24585\" src=\"http:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/IMG_20260205_155209-300x173.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"173\" \/><p id=\"caption-attachment-24585\" class=\"wp-caption-text\">Oplus_16908288<\/p><\/div>\n<p>Oleh: Wirahadikusumah<br \/>\nSaya hanya menjawab singkat: ya.<br \/>\nSambil mengangguk.<br \/>\nPermintaan itu datang dari Abung Mamasa\u2014yang biasa saya panggil Iyay Abung\u2014Ketua Ikatan Jurnalis Provinsi Lampung. Ia meminta saya menulis testimoni tentang satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela.<br \/>\nTanggal 20 Februari 2026, genap setahun keduanya memimpin. IJP berencana menerbitkan buku dan koran berisi pandangan berbagai kalangan. Buku itu dijadwalkan terbit 27 Februari 2026. Saya termasuk yang diminta menulis.<br \/>\nLalu mengapa saya hanya menjawab singkat?<br \/>\nKarena sesungguhnya saya ragu.<br \/>\nSetahun terasa terlalu dini untuk memberi penilaian akhir. Pemerintahan bukan lomba lari 100 meter. Ia lebih menyerupai maraton\u2014bahkan kadang seperti mendaki bukit terjal: pelan, melelahkan, dan hasilnya tak selalu terlihat dari bawah.<br \/>\nNamun saya tak kuasa menolak Iyay Abung.<br \/>\nTiga tahun terakhir, ia lebih dari sekadar kolega. Ia seperti kakak. Hadir saat saya menghadapi kesulitan. Saya pun pernah menjadi bagian dari organisasi itu, ketika masih bernama Komunitas Jurnalis Sekretariat Provinsi. Banyak pengurusnya kini juga bagian dari PWI Lampung. Ada ikatan emosional di sana.<br \/>\nAkhirnya saya menulis.<br \/>\nBukan untuk memberi nilai akhir. Hanya untuk membaca arah.<br \/>\nTahun pertama Mirza\u2013Jihan terasa sebagai fase konsolidasi, bukan ekspansi.<br \/>\nRuang fiskal terbatas. Warisan persoalan tak sedikit. Ekspektasi publik terlanjur tinggi. Dalam situasi seperti itu, pilihan paling rasional adalah menata ulang prioritas\u2014bukan membuat gebrakan yang gaduh.<br \/>\nLampung bukan provinsi kecil. Ia gerbang Sumatra. Ada Pelabuhan Bakauheni yang nyaris tak pernah tidur. Truk datang dan pergi. Logistik Jawa\u2013Sumatra berdenyut di sana.<br \/>\nNamun apa artinya gerbang megah jika halaman rumah sendiri berlubang?<br \/>\nBertahun-tahun jalan provinsi menjadi keluhan. Aspal terkelupas. Lubang di mana-mana. Ongkos angkut naik. Harga komoditas petani ikut tertekan.<br \/>\nSetahun ini memang belum semua mulus.<br \/>\nTapi ada gerak.<br \/>\nPersentase jalan mantap naik 1,7 persen menjadi 79,9 persen. Kecil? Mungkin.<br \/>\nNamun itu terjadi di tengah pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) ratusan miliar rupiah. Tahun berikutnya bahkan dipotong lagi hingga Rp580 miliar. Artinya, pilihan makin sempit.<br \/>\nPemerintah provinsi kemudian memutuskan meminjam dana swasta Rp1 triliun untuk membenahi 62 ruas jalan. Keputusan yang tidak ringan. Pinjaman selalu mengandung risiko. Tetapi diam juga berisiko.<br \/>\nJalan bukan sekadar beton dan aspal. Ia menentukan harga di tingkat petani. Jika jalan rusak, pejabat mungkin masih nyaman. Petani tidak.<br \/>\nDalam sebuah podcast, Mirza pernah mengatakan ingin seluruh jalan provinsi dibeton. \u201cSaya ingin orang Lampung bangga dengan jalannya,\u201d ujarnya.<br \/>\nKalimat itu sederhana. Namun pesannya jelas: infrastruktur adalah harga diri.<br \/>\nDi bidang pendidikan, ada keputusan yang dampaknya terasa langsung. Biaya daftar ulang, uang komite, dan SPP SMA\/SMK\/SLB negeri dihapus mulai tahun ajaran 2025\/2026.<br \/>\nKebijakan seperti ini mungkin tidak viral. Tak ada seremoni besar. Namun bagi orang tua murid, itu nyata.<br \/>\nPendidikan memang jarang menghasilkan tepuk tangan instan. Ia bekerja dalam diam. Tetapi di sanalah masa depan ditentukan.<br \/>\nJika infrastruktur adalah tubuh, pendidikan adalah jiwa. Tanpa jiwa yang kuat, ekonomi hanya dinikmati segelintir orang.<br \/>\nSoal singkong, Lampung punya sejarah panjang. Jeritan petani dulu kerap terdengar: harga jatuh, permainan pabrik, ketidakpastian.<br \/>\nBeberapa bulan terakhir, suaranya lebih reda.<br \/>\nMirza berkali-kali melobi pusat dan mempertemukan petani dengan perusahaan. Tidak mudah. Kepentingan berbeda, tarik-menarik kuat. Hingga akhirnya terbit peraturan gubernur tentang harga acuan pembelian. Tidak menyenangkan semua pihak, tetapi memberi kepastian.<br \/>\nHilirisasi pun mulai disiapkan.<br \/>\nTerlalu lama Lampung menjual mentah\u2014kopi, singkong, jagung, lada. Nilai tambahnya mengalir ke luar daerah. Yang tersisa hanya fluktuasi harga.<br \/>\nBelum ada pabrik raksasa berdiri. Belum ada gunting pita. Namun izin dibenahi, investor diajak bicara, distribusi dihitung.<br \/>\nIni kerja sunyi.<br \/>\nJika berhasil, Lampung tak hanya menjadi ladang. Ia bisa menjadi dapur produksi.<br \/>\nDi sisi fiskal, tantangan belum usai. PAD 2025 tak mencapai target. Realisasinya Rp3,37 triliun\u2014sekitar 79,95 persen dari target Rp4,22 triliun.<br \/>\nAngka tak bisa ditutup dengan retorika.<br \/>\nEvaluasi dilakukan. Perda pajak direvisi. Sejumlah kepala UPTD pajak diganti. Hasilnya mungkin belum langsung melonjak. Namun setidaknya ada upaya.<br \/>\nPemerintahan bukan konten media sosial. Ia soal daya tahan. Lebih baik pelan tetapi stabil, daripada cepat lalu tergelincir. Pilihan seperti ini memang jarang populer.<br \/>\nDi bidang lingkungan, ujian juga datang: isu tambang, hutan, pesisir.<br \/>\nPenertiban dilakukan di beberapa titik. Keputusan seperti ini tidak selalu disukai. Ada tekanan. Ada kepentingan.<br \/>\nNamun jika dibiarkan, yang hilang bukan hanya pohon. Air ikut hilang. Tanah subur rusak. Masa depan terkikis.<br \/>\nDi sinilah kepemimpinan diuji: memilih nyaman atau memilih benar.<br \/>\nApakah setahun ini spektakuler?<br \/>\nBelum.<br \/>\nApakah arahnya mulai terlihat?<br \/>\nMulai.<br \/>\nMirza\u2013Jihan tampak memilih fondasi, bukan sensasi. Konsolidasi, bukan ekspansi tergesa-gesa.<br \/>\nSetahun ini baru prolog. Kalimatnya belum selesai. Namun pembukanya sudah jelas: Lampung harus berdiri dengan kekuatan sendiri\u2014ekonominya berdaulat, manusianya berdaya, lingkungannya terjaga.<br \/>\nSisanya?<br \/>\nWaktu yang akan menguji.<br \/>\nDan publik yang akan menilai. (Wirahadikusumah)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Wirahadikusumah Saya hanya menjawab singkat: ya. Sambil mengangguk. Permintaan itu datang dari Abung Mamasa\u2014yang biasa saya panggil Iyay Abung\u2014Ketua Ikatan Jurnalis Provinsi Lampung. Ia meminta saya menulis testimoni tentang satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela. Tanggal 20 Februari 2026, genap setahun keduanya memimpin. IJP berencana menerbitkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[13,44],"tags":[],"class_list":["post-24807","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news","category-pemprov"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24807"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24807\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24808,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24807\/revisions\/24808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}