{"id":24631,"date":"2026-02-08T17:54:40","date_gmt":"2026-02-08T10:54:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=24631"},"modified":"2026-02-08T17:54:40","modified_gmt":"2026-02-08T10:54:40","slug":"dari-sabda-nabi-hingga-birokrasi-mirza-bicara-hakikat-pemimpin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2026\/02\/08\/dari-sabda-nabi-hingga-birokrasi-mirza-bicara-hakikat-pemimpin\/","title":{"rendered":"Dari Sabda Nabi hingga Birokrasi: Mirza Bicara Hakikat Pemimpin"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-24632\" src=\"http:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/IMG-20260208-WA0076-300x171.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"171\" \/>Lampung \u2013 Suasana Rapat Koordinasi Optimalisasi Aset &amp; Inovasi Layanan di Kantor Gubernur Lampung, 5 Februari 2026, terasa berbeda. Di hadapan para aparatur pemerintahan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan pesan reflektif tentang makna kepemimpinan yang sesungguhnya\u2014bukan semata soal anggaran atau jabatan, melainkan tentang cinta dan amanah.<br \/>\nMengawali sambutannya, Mirzani mengutip sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:<br \/>\n\u201cSeorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, dan rakyatnya pun mencintai dia.\u201d<br \/>\nKutipan tersebut menjadi fondasi utama pesannya, bahwa kepemimpinan bukan relasi kekuasaan, melainkan ikatan batin antara pemimpin dan rakyat.<br \/>\nMenurut Kiyay Mirza\u2014sapaan akrab Rahmat Mirzani Djausal\u2014perubahan adalah keniscayaan. Namun sebelum berbicara tentang adaptasi, pemerintah harus lebih dulu memahami posisi dan perannya.<br \/>\n\u201cKita ini sebagai apa di negara ini, di daerah ini, di birokrasi ini?\u201d ujarnya.<br \/>\nIa menegaskan, jabatan bukan simbol kehormatan, melainkan amanah untuk melayani. Baik mengelola APBD besar maupun terbatas, setiap pejabat dituntut memberi manfaat nyata bagi masyarakat Lampung.<br \/>\n\u201cAllah Ta\u2019ala memberi jabatan bukan untuk dibanggakan, tapi untuk dijalankan sebagai pelayanan,\u201d katanya.<br \/>\nDalam analoginya, pemerintah diibaratkan sebagai orang tua bagi masyarakat. Seperti ayah dan ibu yang memahami kebutuhan anaknya\u2014apa yang disukai, apa yang menyakitinya, dan ke mana masa depannya diarahkan\u2014begitu pula pemerintah terhadap rakyat.<br \/>\n\u201cKita ini orang tuanya masyarakat Lampung. Kita harus tahu, masyarakat ini mau kita jadikan apa,\u201d ujarnya.<br \/>\nIa juga menepis anggapan bahwa pembangunan harus menunggu segala sesuatu serba lengkap. Menurutnya, orang tua tidak perlu menunggu kaya untuk mendidik anak. Hal paling mendasar justru adalah cinta.<br \/>\n\u201cSyarat nomor satu untuk membangun itu cinta,\u201d tegasnya.<br \/>\nCinta itu, lanjut Mirza, akan melahirkan chemistry antara pemimpin dan rakyat. Dari sanalah kepercayaan tumbuh. Setelah kepercayaan terbangun, barulah perencanaan, eksekusi program, hingga kebijakan berbasis data dapat berjalan efektif.<br \/>\nMenutup sambutannya, ia kembali mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang keberuntungan orang-orang yang ditakdirkan Allah menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan. Pesan itu menegaskan bahwa jabatan adalah jalan pengabdian\u2014bukan tujuan akhir, melainkan sarana menghadirkan manfaat. (***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lampung \u2013 Suasana Rapat Koordinasi Optimalisasi Aset &amp; Inovasi Layanan di Kantor Gubernur Lampung, 5 Februari 2026, terasa berbeda. Di hadapan para aparatur pemerintahan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan pesan reflektif tentang makna kepemimpinan yang sesungguhnya\u2014bukan semata soal anggaran atau jabatan, melainkan tentang cinta dan amanah. Mengawali sambutannya, Mirzani mengutip sabda Nabi Muhammad shallallahu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"class_list":["post-24631","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pemprov"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24631","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24631"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24631\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24633,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24631\/revisions\/24633"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24631"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24631"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24631"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}