{"id":24620,"date":"2026-02-07T23:57:28","date_gmt":"2026-02-07T16:57:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=24620"},"modified":"2026-02-08T18:09:26","modified_gmt":"2026-02-08T11:09:26","slug":"pesona-lembut-tari-bedayo-abung-siwo-migo-bius-pengunjung-pentas-budaya-di-hpn-banten","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2026\/02\/07\/pesona-lembut-tari-bedayo-abung-siwo-migo-bius-pengunjung-pentas-budaya-di-hpn-banten\/","title":{"rendered":"Pesona Lembut Tari Bedayo Abung Siwo Migo Bius Pengunjung Pentas Budaya di HPN Banten"},"content":{"rendered":"<div class=\"mceTemp\">\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-24621\" src=\"http:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/IMG_20260207_235432-300x150.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"150\" \/><\/p>\n<p>Oplus_16908288Serang &#8211; Penampilan Tarian Bedayo Abung Siwo Migo yang dibawakan sembilan penari perempuan dari Sanggar Cangget Bedayo sukses memukau penonton dalam Pentas Budaya, Hiburan, dan Pameran UMKM di Alun-Alun Pancaniti, Serang, Banten, Sabtu (07\/02\/2026).<br \/>\nTarian Bedayo Abung Siwo Migo merupakan salah satu warisan tari tradisional masyarakat Lampung Pepadun, khususnya dari kelompok adat Abung Siwo Migo.<br \/>\nKepala Dinas Pariwisata Lampung Utara, Perdana Putra, menjelaskan bahwa tarian tersebut lahir dan berkembang sebagai bagian dari tradisi adat yang mengatur tata kehidupan masyarakat Abung, terutama dalam menjunjung tinggi nilai kesopanan, kehormatan, serta peran perempuan dalam adat Lampung.<br \/>\n\u201cPada awal kemunculannya, Tari Bedayo ditampilkan dalam berbagai acara adat penting seperti begawi adat, penyambutan tamu kehormatan, serta kegiatan adat yang bersifat sakral,\u201d jelas Perdana di lokasi kegiatan.<br \/>\nIa menambahkan, tarian ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur, tetapi juga simbol kemuliaan adat yang diwariskan secara turun-temurun.<br \/>\n\u201cKita patut berbangga dan bersyukur karena tarian ini telah mendapat penghargaan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Kementerian Kebudayaan pada tahun 2024,\u201d ungkapnya.<br \/>\nSecara etimologis, istilah Bedayo bermakna kelembutan dan keindahan gerak. Makna tersebut tercermin dalam setiap ragam gerakan yang halus, teratur, dan penuh pengendalian diri.<br \/>\nGerakan-gerakan dalam Tari Bedayo melambangkan karakter perempuan Lampung yang santun, anggun, sekaligus berwibawa. Karena itu, para penarinya umumnya adalah perempuan yang telah memahami nilai-nilai adat, etika, serta makna filosofis yang terkandung di dalam tarian tersebut, pungkas Perdana.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oplus_16908288Serang &#8211; Penampilan Tarian Bedayo Abung Siwo Migo yang dibawakan sembilan penari perempuan dari Sanggar Cangget Bedayo sukses memukau penonton dalam Pentas Budaya, Hiburan, dan Pameran UMKM di Alun-Alun Pancaniti, Serang, Banten, Sabtu (07\/02\/2026). Tarian Bedayo Abung Siwo Migo merupakan salah satu warisan tari tradisional masyarakat Lampung Pepadun, khususnya dari kelompok adat Abung Siwo Migo. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[],"class_list":["post-24620","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24620","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24620"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24620\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24643,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24620\/revisions\/24643"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24620"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24620"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24620"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}