{"id":24152,"date":"2025-09-21T05:13:22","date_gmt":"2025-09-20T22:13:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=24152"},"modified":"2025-09-21T05:13:22","modified_gmt":"2025-09-20T22:13:22","slug":"diskusi-di-kl-coffee-kotabumi-djuhardi-isbedy-gila-seperti-putu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2025\/09\/21\/diskusi-di-kl-coffee-kotabumi-djuhardi-isbedy-gila-seperti-putu\/","title":{"rendered":"Diskusi di KL Coffee Kotabumi, Djuhardi: Isbedy \u2018Gila\u2019 Seperti Putu"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-24153\" src=\"http:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250920-WA0041-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" \/>Lampung Utara &#8211; Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS dalam buku \u201cMenungguku Tiba\u201d multi tafsir. Siapa menunggu itu, apakah aku ataukah yang lain?<\/p>\n<p>Demikian rangkuman dari diskusi buku puisi terbaru Isbedy Stiawan ZS, \u201cMenugguku Tiba\u201d penerbit Lampung Literature (Juni 2025) di to.KOBU.ku &#8211; KL Coffee Indonesia, Kelapa Tujuh, Kotabumi Lampung Utara, Jumat 19 September 2025 pukul 19.00-22.00.<\/p>\n<p>Dua pemantik diskusi adalah dosen Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO) Lampung Utara Djuhardi Basri dan Meutia Rachmatia. Sedangkan moderator yakni Fitri Angraini, dosen UIN Radin Intan Lampung.<\/p>\n<p>Diskusi dihadiri tak kurang 25 orang dari mahasiswa UMKO, seniman, dan pemerhati seni di Lampung Utara. Diantaranya Nani Rahayu, Maulana Imau, Milyar, Ayu Permata Sari, dan lain-lain.<\/p>\n<p>Meutia yang sehari-hari Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia mengatakan bahwa puisi-puisi Isbedy yang multi tafsir mengangakat tema yang beragam. \u201cNamun arus utama puisi Isbedy adalah kerinduan, penantian, dan kehilangan. Selain tema sosial,\u201d ujar Meutia.<\/p>\n<p>Dikatakan Meutia, yang menarik dari puisi Isbedy meninggalkan pertanyaan atau pesan setelah membacanya. Seperti siapa yang kehilangan, rindu, atau penantiaan itu. \u201cApakah aku penyair atau bukan aku penyair,\u201d ujar Meutia.<\/p>\n<p>Dari pengantar Isbedy saat berusia 67 tahun, dapat disebut tema-tema seperti itu juga cinta. Meutia menyebut puisi \u201cSaatnya Kunikmati\u201d (hal.27). \u201cKalau Djuhardi membahas pohon ngaceng, maka yang menarik bagi saya pada kalimat \u2018aku tak sekokoh batang, aku pilih ini pembaringan. Menurut saya itu menarik jika tadi kita bicara tema penantian dan kerinduan, dan setiap.pembaca bisa menafsir sendiri menurut perspektifnya,\u201d ungkap dia.<\/p>\n<p>Sebelumnya Djuhardi Basri mengatakan, terpenting bagi penyair adalah memilih kata-kata dan menempatkan pada tempat yang tepat. Inilah yang ada pada penyair Isbedy dalam puisi-puisinya.<\/p>\n<p>Djuhardi mengakui kalau mendengar Isbedy menerbitkan buku puisi, pertanyaannya adalah ada apa? \u201cTernyata Isbedy bukan saja produktif, tapi juga selalu ada tawaran yang lain dan baru,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Masih kata Djuhardi yang juga penyair dan sutradara teater Sangkar Mahmud UMKO, dari judul saja Isbedy telah menempatkan kata yang pas dan multi tafsir. \u201cSetelah saya membaca, ternyata pada dasarnya kita ini sedang menunggu. Siapa yang menunggu; akukah atau mautkah yang menunggu?\u201d kata Djuhardi.<\/p>\n<p>Jadi, lanjut dia, diksi atau pilihan dan penempatan kata yang pas merupakan pertaruhan besar bagi seorang penyair. \u201cDan ini ada pada Isbedy. Dia melalui puisi-puisinya mampu memilih dan menempatkan kata pada tempat yang tepat,\u201d nilai Djuh yang disapa mahasiswa abi itu.<\/p>\n<p>Bagian lain, Djuhardi menyebut Isbedy seperti Putu Wijaya dalam hal produktivitas Kedua sastrawan ini \u201cgila\u201d menternakkan karya.<\/p>\n<p>Diskusi kemudian jadi menarik dipandu Fitri Angraini yang mampu menggelitik audiens. Koreografer Ayu Permata Sari bertanya apakah seniman harus tetap menjaga \u201cgangguan\u201d dalam diri untuk terus berkarya, atau sebaliknya mencari nyaman di zona aman.<\/p>\n<p>Menanggapi pernyataan itu, Isbedy tegas akan memilih tetap di area mengganggu (gangguan) tersebut. \u201cSebab bagi seniman, kegelisahan dan gangguan itu membuat seniman terus mencari dan berkarya.<\/p>\n<p>Diskusi ini juga diisi pembacaan puisi oleh Djuhardi Basri, Meutia Rachmatia, Shera, Alif, Ayu Permata Sari, dan ditutup Isbedy yang membacakan puisi \u201cSajaksajak Pendek Ditulis Ketika Kau Menungguku Tiba\u201d. (***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lampung Utara &#8211; Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS dalam buku \u201cMenungguku Tiba\u201d multi tafsir. Siapa menunggu itu, apakah aku ataukah yang lain? Demikian rangkuman dari diskusi buku puisi terbaru Isbedy Stiawan ZS, \u201cMenugguku Tiba\u201d penerbit Lampung Literature (Juni 2025) di to.KOBU.ku &#8211; KL Coffee Indonesia, Kelapa Tujuh, Kotabumi Lampung Utara, Jumat 19 September 2025 pukul 19.00-22.00. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[31],"tags":[],"class_list":["post-24152","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lampung-utara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24152","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24152"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24152\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24154,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24152\/revisions\/24154"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}