{"id":24109,"date":"2025-09-18T08:52:12","date_gmt":"2025-09-18T01:52:12","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=24109"},"modified":"2025-09-18T08:52:12","modified_gmt":"2025-09-18T01:52:12","slug":"lampung-fest-2025-hadir-november-tanpa-apbd-andalkan-kolaborasi-komunitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2025\/09\/18\/lampung-fest-2025-hadir-november-tanpa-apbd-andalkan-kolaborasi-komunitas\/","title":{"rendered":"Lampung Fest 2025 Hadir November, Tanpa APBD Andalkan Kolaborasi Komunitas"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-24110\" src=\"http:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250918-WA0011-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/p>\n<p>Bandarlampung &#8211; Lampung Fest akan hadir pada 11-25 November 2025 di PKOR Way Halim, Bandar Lampung. Hadir dengan format berbeda, festival ini jadi panggung kolaborasi masyarakat, komunitas kreatif, dan dunia usaha untuk menggerakkan pariwisata Lampung.<\/p>\n<p>Festival ini bukan hanya menjadi ajang seni dan budaya, melainkan juga tonggak awal penerapan program Lampung Boemi Event yang digagas Pemerintah Provinsi Lampung bersama Forum Lampung Kreatif (FOLK).<\/p>\n<p>Menariknya, penyelenggaraan festival ini tidak menggunakan dana APBD sama sekali.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Bobby Irawan, mengatakan Lampung Fest lahir sebagai strategi menjawab tantangan pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.<\/p>\n<p>\u201cSalah satu cara mengundang pergerakan wisatawan adalah dengan mengadakan event. Selain itu, kami ingin meningkatkan spent money, atau uang yang dibelanjakan wisatawan,\u201d ujarnya, Rabu (17\/9\/2025).<\/p>\n<p>Melalui Lampung Fest 2025, kata Bobby, seluruh unsur akan dilibatkan, mulai dari pelaku industri pariwisata, ekonomi kreatif, asosiasi, komunitas, UMKM, BUMN, akademisi, hingga media.<\/p>\n<p>\u201cSemua bersinergi untuk mewujudkan visi-misi Gubernur Lampung. Festival ini sekaligus menjadi festival pertama yang diinisiasi langsung oleh Gubernur Rahmat Mirzani Djausal,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Target Ambisius<\/p>\n<p>Festival yang akan digelar selama lima belas hari ini menargetkan 200 ribu pengunjung.<\/p>\n<p>\u201cKami berharap sektor kuliner dan musik menjadi yang paling tumbuh dari festival ini, karena dua sektor itu paling dekat dengan masyarakat,\u201d jelas Bobby.<\/p>\n<p>Tanpa APBD, Mengandalkan Kolaborasi<\/p>\n<p>Bobby menegaskan Lampung Festival 2025 sama sekali tidak menggunakan APBD. Pola pembiayaan diambil dari sponsor swasta, skema bagi hasil dengan UMKM, hingga tiket konser musik.<\/p>\n<p>\u201cIdealnya memang seperti ini. Pariwisata bisa bergerak tanpa selalu bergantung pada anggaran pemerintah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia juga menekankan, peran FOLK tidak sekadar teknis, melainkan ikut diberi ruang untuk berkreasi.<\/p>\n<p>\u201cKonsep besar dan tema tetap dari pemerintah provinsi, tetapi komunitas diberi kebebasan berinovasi. Semangat kolaborasi ini yang kami jadikan ciri khas festival,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Komunitas Ambil Alih Peran<\/p>\n<p>Ketua FOLK, Riqwan Sahari, menegaskan komunitas hadir untuk menunjukkan bahwa masyarakat bisa mengambil peran nyata dalam pembangunan pariwisata.<\/p>\n<p>\u201cKami tidak menunggu anggaran pemerintah. Banyak daerah lain seperti Jember, Banyuwangi, Dieng, atau Solo sudah berhasil membuat festival besar tanpa bergantung APBD. Lampung juga bisa,\u201d kata Riqwan.<\/p>\n<p>FOLK sendiri lahir dari kumpulan anak muda yang aktif menggelar event kuliner dan musik. Anggotanya beragam, mulai dari penggiat media sosial, pelaku event, pekerja kreatif, hingga komunitas UMKM.<\/p>\n<p>\u201cDalam Lampung Festival ini, hampir semua hal dilakukan bersama-sama oleh anggota FOLK. Mulai dari kurasi acara, promosi, pencarian sponsor, sampai pengelolaan stand,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Riqwan, indikator keberhasilan festival ini bukan hanya jumlah pengunjung, melainkan juga keterlibatan komunitas serta besaran transaksi ekonomi.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin festival ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor. Harapannya, manfaat bisa langsung dirasakan masyarakat, khususnya UMKM kuliner yang selalu mendapat tempat di acara kami,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Riqwan menambahkan, festival ini tidak akan menarik biaya tiket masuk bagi pengunjung.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak ada biaya tiket masuk di Lampung Fest ini. Kami hanya berlakukan tiket untuk acara konser musik saja,&#8221; terang Riqwan.<\/p>\n<p>Harapan dan Visi<\/p>\n<p>Bagi FOLK, Lampung Festival 2025 bukan sekadar pesta rakyat, tetapi pembuktian bahwa masyarakat mampu menggelar acara besar dengan daya dukung sendiri.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin diakui bahwa komunitas juga bisa mengadakan acara yang dilakukan oleh, dari, dan untuk masyarakat. Jika Lampung Fest ini sukses, kami siap terlibat lagi di event-event lain,\u201d kata Ale.<\/p>\n<p>Penyelenggaraan Lampung Festival 2025 dipandang sebagai momentum penting bagi Lampung untuk menata pariwisata berbasis kolaborasi.<\/p>\n<p>&#8220;Festival ini diharapkan bukan hanya pesta budaya, melainkan model baru pariwisata Lampung yang bertumpu pada kolaborasi masyarakat,&#8221; pungkas Riqwan.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandarlampung &#8211; Lampung Fest akan hadir pada 11-25 November 2025 di PKOR Way Halim, Bandar Lampung. Hadir dengan format berbeda, festival ini jadi panggung kolaborasi masyarakat, komunitas kreatif, dan dunia usaha untuk menggerakkan pariwisata Lampung. Festival ini bukan hanya menjadi ajang seni dan budaya, melainkan juga tonggak awal penerapan program Lampung Boemi Event yang digagas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-24109","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bandarlampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24109","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24109"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24109\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24111,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24109\/revisions\/24111"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24109"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24109"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24109"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}