{"id":23992,"date":"2025-05-22T16:48:06","date_gmt":"2025-05-22T09:48:06","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=23992"},"modified":"2025-09-11T16:49:53","modified_gmt":"2025-09-11T09:49:53","slug":"pesan-anggota-dprd-lampung-di-hari-pendidikan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2025\/05\/22\/pesan-anggota-dprd-lampung-di-hari-pendidikan-nasional\/","title":{"rendered":"Pesan Anggota DPRD Lampung di Hari Pendidikan Nasional"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-23994\" src=\"http:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/203-1-189x300.jpg\" alt=\"\" width=\"189\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/203-1-189x300.jpg 189w, https:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/203-1.jpg 646w\" sizes=\"auto, (max-width: 189px) 100vw, 189px\" \/><\/p>\n<p><strong>Bandarlampung<\/strong>\u00a0\u2013 Dalam momen peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, Anggota DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa, menyampaikan refleksi dan harapan besar terhadap masa depan pendidikan di daerah. Ia menilai peringatan ini bukan hanya ajang seremonial, tetapi kesempatan untuk melihat ulang sejauh mana sistem pendidikan di Lampung menjawab kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cHardiknas adalah momen untuk bertanya: apakah pendidikan kita benar-benar sudah mencerdaskan dan memerdekakan? Atau justru masih menyisakan kesenjangan dan beban bagi rakyat kecil?\u201d ujar Andika, Jumat (2\/5) pagi.<\/p>\n<p>Andika menekankan pentingnya pendidikan yang adil dan inklusif, yang tidak hanya hadir untuk mereka yang mampu secara ekonomi. Menurutnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membuka akses bagi semua anak tanpa kecuali.<\/p>\n<p>\u201cTidak boleh ada anak di Lampung yang putus sekolah karena tidak punya biaya. Pemerintah daerah harus hadir memastikan pendidikan bisa diakses semua kalangan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dalam konteks kebijakan dan praktik pendidikan, Andika juga mengajak seluruh pihak untuk mengevaluasi sejumlah hal, seperti biaya pendidikan terselubung, sumbangan komite, kurangnya fasilitas, serta program sekolah yang belum merata manfaatnya.<\/p>\n<p>\u201cKita masih menerima laporan tentang sumbangan yang membebani, ijazah yang ditahan, hingga program sekolah seperti study tour yang tidak berpihak pada siswa dari keluarga kurang mampu. Ini harus dibenahi bersama,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Di tengah upaya pemerintah pusat dan daerah mendorong implementasi Kurikulum Merdeka, Andika berharap semangat \u201cmerdeka belajar\u201d benar-benar terasa hingga ke sekolah-sekolah di pelosok Lampung.<\/p>\n<p>\u201cKita butuh kebijakan yang tidak hanya baik di atas kertas, tapi juga terasa di ruang-ruang kelas. Pendidikan yang membebaskan harus memberi ruang bagi siswa berkembang, bukan justru membebani mereka,\u201d kata Andika.<\/p>\n<p>Untuk itu, Anggota fraksi Gerindra Lampung ini mengajak seluruh elemen masyarakat \u2014 mulai dari guru, orang tua, hingga pemerintah \u2014 untuk bersama-sama menjaga semangat pendidikan sebagai jalan perubahan.<\/p>\n<p>\u201cPendidikan adalah kunci masa depan Lampung dan Indonesia. Mari kita jadikan Hardiknas ini titik balik untuk membangun sistem yang berpihak pada anak-anak kita, generasi penerus bangsa,\u201d tutupnya seperti dilansir lampung way. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandarlampung\u00a0\u2013 Dalam momen peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, Anggota DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa, menyampaikan refleksi dan harapan besar terhadap masa depan pendidikan di daerah. Ia menilai peringatan ini bukan hanya ajang seremonial, tetapi kesempatan untuk melihat ulang sejauh mana sistem pendidikan di Lampung menjawab kebutuhan masyarakat. \u201cHardiknas adalah momen untuk bertanya: apakah pendidikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":23993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-23992","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23992","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23992"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23992\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23995,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23992\/revisions\/23995"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23992"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23992"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23992"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}