{"id":23536,"date":"2025-05-19T18:39:15","date_gmt":"2025-05-19T11:39:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=23536"},"modified":"2025-05-19T18:39:15","modified_gmt":"2025-05-19T11:39:15","slug":"di-balik-kanvas-dan-nada-sby-sambut-kemenparekraf-di-cikeas-art-gallery","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2025\/05\/19\/di-balik-kanvas-dan-nada-sby-sambut-kemenparekraf-di-cikeas-art-gallery\/","title":{"rendered":"Di Balik Kanvas dan Nada: SBY Sambut Kemenparekraf di Cikeas Art Gallery"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-23537\" src=\"http:\/\/www.journallampung.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250519-WA0107-300x219.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"219\" \/><\/p>\n<p>Bogor &#8211; Hari itu, 14 Mei 2025, suasana di Puri Cikeas terasa berbeda. Di tengah rimbun pepohonan dan udara Bogor yang sejuk, rombongan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif datang berkunjung ke Cikeas Art Gallery, galeri pribadi milik Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di tempat yang tenang dan bersahaja itu, SBY menyambut langsung Menteri Parekraf, Teuku Riefky Harsya, beserta jajaran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dengan semangat yang terpancar dari wajahnya, SBY memulai kisah perjalanannya menekuni dunia seni rupa. Siapa sangka, sejak 2 Mei 2021 lalu, ia telah menghasilkan lebih dari 350 lukisan. \u201cSebagian besar lukisan saya ada di Museum dan Galeri SBY*ANI di Pacitan. Di sini hanya sebagian\u2014saya menyebutnya galeri mini,\u201d ucapnya dengan nada rendah hati.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sambil berjalan menyusuri galeri, beliau menunjukkan satu demi satu lukisan karyanya. Pada awalnya, SBY mengaku gemar melukis pemandangan alam seperti laut, gunung, dan pantai. Namun seiring waktu, objek yang ia lukis pun berkembang. Kini ada binatang, rumah-rumah pedesaan, bahkan bangunan-bangunan artistik. Belakangan, ia semakin tertarik mengeksplorasi gaya abstrak dan semi-abstrak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Salah satu lukisan yang mencuri perhatian adalah karya berjudul \u201cThe Day God Tests Our Faith and Courage\u201d\u2014lukisan besar menggambarkan tragedi tsunami Aceh. \u201cLukisan ini saya selesaikan dalam waktu 15 jam. Ukurannya 310 cm x 140 cm,\u201d tutur SBY sambil menatap hasil karyanya, seolah kembali menghidupkan kenangan dan emosi yang tertuang dalam sapuan kuasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>SBY pun tidak segan berbagi soal teknik yang ia gunakan. Mulai dari cat akrilik hingga cat minyak, bahkan sesekali ia menggunakan pisau palet dan teknik finger painting. \u201cMelukis dengan jari itu&#8230; berbeda. Lebih intim, lebih ekspresif,\u201d katanya sambil tersenyum.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Rencana Karya SBY di Tahun 2025<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kepada rombongan Kemenparekraf, SBY juga menceritakan rencana-rencananya di dunia seni tahun ini. Salah satunya, pada Agustus nanti ia akan menggelar sebuah gerakan seni bertajuk \u201cArt Movement\u201d. Dalam acara itu, ia akan melukis bersama para seniman dari berbagai institusi ternama seperti ISI Yogyakarta, ISI Solo, Seni Rupa ITB, dan IKJ. Temanya: \u201cIndonesia: A Country of Peace and Hope\u201d.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Masih di bulan yang sama, SBY akan meluncurkan sebuah lagu berjudul \u201cSave Our World\u201d\u2014versi baru dari lagu ciptaannya \u201cUntuk Bumi Kita\u201d. Lagu ini akan dibawakan oleh 35 penyanyi lintas generasi, mulai dari alm. Titiek Puspa, Vina Panduwinata, Yuni Shara, hingga penyanyi cilik berusia 7 tahun. \u201cLagu ini adalah seruan, ajakan untuk menjaga bumi kita bersama,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tak berhenti di situ, SBY juga tengah menyiapkan pameran lukisan tunggal pada September 2025, yang akan menampilkan sekitar 100 karya terbaiknya kepada publik. Selain itu, ia juga sedang menyelesaikan edisi ketiga kumpulan puisi dan menulis sebuah novel fiksi bergenre suspense.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pesan untuk Ekonomi Kreatif Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menjelang akhir pertemuan, SBY berbagi pandangan soal pentingnya ekonomi kreatif bagi masa depan Indonesia. \u201cSaat saya merumuskan nomenklatur ekonomi kreatif pada 2011, saya percaya bahwa Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada sektor agraria dan industri. Kita punya budaya yang kaya, kreativitas yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita menyatukan seni dan teknologi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pesan itu disambut hangat oleh Menteri Teuku Riefky. Ia mengakui, kunjungan ke galeri SBY tak hanya membuka wawasan, tetapi juga membangkitkan semangat. \u201cApa yang disampaikan Pak SBY hari ini, semakin menguatkan keyakinan kami: seniman adalah pilar penting dalam industri kreatif nasional. Kami diberi amanah untuk mendukung mereka agar semakin berkualitas dan sejahtera, terutama di era digital ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kemenparekraf juga menekankan pentingnya perlindungan atas karya melalui pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). \u201cKami fokus mendampingi para pelaku ekonomi kreatif, termasuk seniman, agar mendaftarkan karya mereka. Ini penting, tidak hanya untuk komersialisasi, tapi juga perlindungan hukum,\u201d tambah Riefky.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam kunjungan itu, Menteri Riefky didampingi oleh Wakil Menteri Irene Umar serta jajaran pejabat eselon I dan II. Suasana hangat dan penuh apresiasi itu menandai sebuah pertemuan yang tidak hanya penuh karya, tapi juga penuh harapan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kiagoos Irvan Faisal<\/p>\n<p>Plt. Kepala Biro Komunikasi<\/p>\n<p>Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif\/Badan Ekonomi Kreatif<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bogor &#8211; Hari itu, 14 Mei 2025, suasana di Puri Cikeas terasa berbeda. Di tengah rimbun pepohonan dan udara Bogor yang sejuk, rombongan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif datang berkunjung ke Cikeas Art Gallery, galeri pribadi milik Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di tempat yang tenang dan bersahaja itu, SBY menyambut langsung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[],"class_list":["post-23536","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23536","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23536"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23536\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23538,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23536\/revisions\/23538"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23536"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23536"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23536"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}