{"id":21222,"date":"2023-11-08T16:30:39","date_gmt":"2023-11-08T09:30:39","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=21222"},"modified":"2023-11-08T16:30:39","modified_gmt":"2023-11-08T09:30:39","slug":"ungkap-perkara-mafia-tanah-polda-lampung-diganjar-penghargaan-kementerian-agraria","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2023\/11\/08\/ungkap-perkara-mafia-tanah-polda-lampung-diganjar-penghargaan-kementerian-agraria\/","title":{"rendered":"Ungkap Perkara Mafia Tanah, Polda Lampung Diganjar Penghargaan Kementerian Agraria"},"content":{"rendered":"<p>LAMPUNG &#8212; Pengungkapan perkara mafia tanah yang menjadi target operasi (TO) tahun 2023 membuat Polda Lampung mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agraria.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penghargaan itu diberikan Kementerian Agraria Hadi Tjahjanto kepada Kapolda Lampung Inspektur Jenderal (Irjen) Helmy Santika di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Rabu (8\/11\/2023).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sebagai simbol penghargaan Kapolda Lampung juga disematkan pin emas oleh Menteri Agraria Hadi Tjahjanto.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kapolda Lampung Irjen Helmy Santika menyebutkan dari dua perkara yang menjadi TO Satgas Antimafia Tanah itu sebanyak enam orang telah ditetapkan sebagai tersangka.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Pasal yang diterapkan adalah Pasal 263 KUHP atau Pasal 264 KUHP atau Pasal 266 KUHP Juncto Pasal 55 KUHP dengan ancaman maksimal 8 tahun penjara,&#8221; kata Helmy, Rabu (8\/11\/2023).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Perkara pertama dilakukan oleh tersangka P, U dan W dengan modus lahan milik korban yang diaku milik tersangka P.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Korban mengajukan pinjaman kepada bank dengan jaminan sertifikat rumah dan lahannya. Kemudian tersangka P berpura-pura sebagai korban dan menjualnya kepada U dan W.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Penjualan itu menggunakan blanko sertifikat hak milik yang berbeda dengan milik korban,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kasus kedua dilakukan oleh tersangka TS, HA, dan IP dengan modus menimbun persawahan dan mengubah site plan dari Provinsi Lampung.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Objek tanah itu adalah pembagian dari Provinsi Lampung kepada pegawai negeri sipil,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Para tersangka membuat objek tanah menjadi jalan umum dan tempat ibadah (mushola) agar pemilik sertifikat hak milik berlawanan dengan masyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Dalam proses penyelidikan dan penyidikan para tersangka tidak kooperatif,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Selain itu, pada saat dilakukan pengembalian batas oleh Kantor ATR\/BPN Kota Bandar Lampung, para tersangka juga mengumpulkan masyarakat sekitar agar proses tersebut tidak dapat dilakukan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kemudian para tersangka juga selalu mengajukan gugatan perdata ataupun PTUN agar proses penyidikan ditunda atau ditangguhkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Saya mengucapkan terima kasih sampaikan kepada Direktorat Reserse Kriminal Umum dan Polres jajaran yang telah mengungkap dan bekerja terkait permasalahan pertanahan,&#8221; kata Helmy. (Rls)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LAMPUNG &#8212; Pengungkapan perkara mafia tanah yang menjadi target operasi (TO) tahun 2023 membuat Polda Lampung mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agraria. &nbsp; Penghargaan itu diberikan Kementerian Agraria Hadi Tjahjanto kepada Kapolda Lampung Inspektur Jenderal (Irjen) Helmy Santika di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Rabu (8\/11\/2023). &nbsp; Sebagai simbol penghargaan Kapolda Lampung juga disematkan pin emas oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21223,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-21222","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bandarlampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21222","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21222"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21222\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21224,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21222\/revisions\/21224"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21223"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21222"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21222"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21222"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}