{"id":20761,"date":"2023-06-15T05:36:18","date_gmt":"2023-06-14T22:36:18","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=20761"},"modified":"2023-06-15T05:36:18","modified_gmt":"2023-06-14T22:36:18","slug":"pembangunan-tugu-bundaran-pancasila-kota-kalianda-libatkan-pemangku-adat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2023\/06\/15\/pembangunan-tugu-bundaran-pancasila-kota-kalianda-libatkan-pemangku-adat\/","title":{"rendered":"Pembangunan Tugu Bundaran Pancasila Kota Kalianda Libatkan Pemangku Adat"},"content":{"rendered":"<p>Lampung Selatan : Pembangunan Tugu Bundaran Pancasila Kota Kalianda terletak di jalan lintas Trans Sumatera tepatnya pertigaan memasuki Kota Kalianda melibatkan pemangku adat setempat.<\/p>\n<p>Pemerintah daerah setempat juga tidak secara sepihak dalam membangun sebuah pembangunan yang mana susuai dengan tugas dan fungsi pemerintah sendiri.<\/p>\n<p>Baru-baru ini saja, pemerintah daerah Kabupaten Lampung Selatan membangun Tugu Bundaran Pancasila yang dihiasi air mancur dan logo daerah berjuluk Bumi Khagom Mufakat.<\/p>\n<p>Sebelum pembuatannya sampai dengan saat ini masih dalam tahap finishingnya, pemerintah setempat membahas terkait pembangunan tugu tersebut dengan sejumlah tokoh adat. Tentunya, tujuan dari itu supaya ada keterlibatan, sumbangsih, perencanaan, serta ide-ide sebelum pelaksanaan pembangunan tugu tersebut.<\/p>\n<p>Hal ini di akui salah satu pemangku adat daerah setempat yakni Azhar Marzuki mewakili Sai Batin Lima Marga. Ia juga yang bergelar Pangeran Tihang Marga Sai Batin Marga Legun membeberkan, bahwa dalam pembuatan Tugu Bundaran Pancasila tersebut melibatkan pemangku adat.<\/p>\n<p>&#8220;Alhamdulillah, beberapa waktu kemarin sudah dibahas dan disampaikan, serta mereka minta izin untuk pembuatan tugu Lamsel,&#8221; bebernya, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (14\/6\/2023).<\/p>\n<p>Dalam hal ini, mereka (pemangku adat, red) merespon baik dan menyambut positif pembangunan tugu oleh pemerintah daerah setempat yang saat ini di pimpin Bupati Nanang Ermanto.<\/p>\n<p>&#8220;Kita menyambut baik, selagi pembangunan dan program dari Pemkab Lamsel ditujukan untuk kepentingan masyarakat Lamsel pada khususnya,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Dirinya juga mengatakan, dari sisi pembuatan logo Kabupaten Lampung Selatan. Dikaukuinya, pada logo siger mewakili beberapa adat Lampung di Lampung Selatan.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau masalah simbol itu menurut kami sudah mewakili adat yang ada di Bumi Khagom Mufakat dimana lambang siger 7 lekukan yang menjelaskan bahwa di bumi Lampung ada dua jurai yakni sai batin dan pepadun. Lamsel mayoritas adatnya masuk ke dalam sai batin,&#8221; akunya.<\/p>\n<p>Selain itu, pihaknya juga mengapresiasi serta mensuport pihak Pemkab Lampung Selatan yang berencana akan membangun sebuah tugu adat sebagai simbol persatuan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami juga mensupport pembangunan lainnya dimana nantinya akan ada pembuatan Tugu Pengantin sebagai simbol persatuan,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p>Disisi lainnya, adanya tugu berlambang Pancasila dan Bumi Khagom Mufakat tersebut menjadi icon baru bagi masyarakat Kalianda dan sekitarnya.<\/p>\n<p>Dimana setiap malam Minggu, dihadirkan live musik, selain itu tugu tersebut menjadi lokasi berswafoto masyarakat dan kalangan milenial. Gambar yang ditampilkan pun merupakan tugu 360 derajat yang dengan indah menjadi lokasi tongkrongan baru bagi kalangan muda-mudi. (Fitri)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lampung Selatan : Pembangunan Tugu Bundaran Pancasila Kota Kalianda terletak di jalan lintas Trans Sumatera tepatnya pertigaan memasuki Kota Kalianda melibatkan pemangku adat setempat. Pemerintah daerah setempat juga tidak secara sepihak dalam membangun sebuah pembangunan yang mana susuai dengan tugas dan fungsi pemerintah sendiri. Baru-baru ini saja, pemerintah daerah Kabupaten Lampung Selatan membangun Tugu Bundaran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20762,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-20761","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lampung-selatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20761"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20761\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20763,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20761\/revisions\/20763"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/20762"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}