{"id":17487,"date":"2021-06-25T20:35:56","date_gmt":"2021-06-25T13:35:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=17487"},"modified":"2021-06-25T20:35:56","modified_gmt":"2021-06-25T13:35:56","slug":"jalan-provinsi-berlobang-warga-pekon-ulusemoung-lakukan-penimbunan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2021\/06\/25\/jalan-provinsi-berlobang-warga-pekon-ulusemoung-lakukan-penimbunan\/","title":{"rendered":"Jalan Provinsi Berlobang, Warga Pekon Ulusemoung Lakukan Penimbunan"},"content":{"rendered":"<p>Tanggamus (JL) : Warga melakukan penimbunan jalan provinsi yang berlobang jalur Ulubelu Pekon Ulusemoung Kabupaten Tanggamus yang dikhawtirkan ada pengguna terjerembab. Jum&#8217;at (25\/06\/21).<\/p>\n<p>Penimbunan jalan ini langsung dipimpin oleh Kepala Pekon Ulusemoung (Bashan) bersama masyarakatnya, &#8220;Jalan lintas ulu Belu sudah di bangun, pembangunan nya yang secara estapet, sebagian sudah ada yang di cor rabat beton, sebagian belum, yang kita timbun ini dilokasi yang belum dibangun.&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Harapannya provinsi bisa anggarkan pembangunan nya, &#8220;mudah-mudahan tahun ini pemerintah Provinsi bisa menganggarkan, untuk meneruskan pembangunan jalan yang belum merata&#8221; pungkas nya.<\/p>\n<p>Apabila musim hujan jalan tersebut lumayan sulit dilalui, keluhan salah satu warga, &#8221; Jalan nya masih berbentuk Onderlagh. Guna menghindari pengguna jalan terjerembab, ini kan liat aja, berlobang dan bergelombang, terpaksa kami timbun,&#8221; keluh nya. (Jeni)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanggamus (JL) : Warga melakukan penimbunan jalan provinsi yang berlobang jalur Ulubelu Pekon Ulusemoung Kabupaten Tanggamus yang dikhawtirkan ada pengguna terjerembab. Jum&#8217;at (25\/06\/21). Penimbunan jalan ini langsung dipimpin oleh Kepala Pekon Ulusemoung (Bashan) bersama masyarakatnya, &#8220;Jalan lintas ulu Belu sudah di bangun, pembangunan nya yang secara estapet, sebagian sudah ada yang di cor rabat beton, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17488,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-17487","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bandarlampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17487","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17487"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17487\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17489,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17487\/revisions\/17489"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17488"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17487"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17487"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17487"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}