{"id":10430,"date":"2020-01-16T14:07:49","date_gmt":"2020-01-16T07:07:49","guid":{"rendered":"https:\/\/www.journallampung.com\/?p=10430"},"modified":"2020-01-16T14:07:49","modified_gmt":"2020-01-16T07:07:49","slug":"ketua-dprd-lampung-pertanyakan-dugaan-peralihan-aset-tanah-milik-pemprov","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/2020\/01\/16\/ketua-dprd-lampung-pertanyakan-dugaan-peralihan-aset-tanah-milik-pemprov\/","title":{"rendered":"Ketua DPRD Lampung Pertanyakan Dugaan Peralihan Aset Tanah Milik Pemprov"},"content":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (Journal):Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung mempertanyakan mekanisme dugaan peralihan aset  pemerintah berupa tanah yang diklaim milik warga.<\/p>\n<p>&#8220;Kita lihat dulu prosedur dan mekanisme perpindahan itu seperti apa. Jadi bukan masalah boleh atau tidak boleh,  tapi kita lihat dulu prosedurnya seperti apa,&#8221;kata Ketua DPRD Lampung,  Mingrum Gumay,  Selasa (14\/1).<\/p>\n<p>Soal aset pemerintah,  kata Mingrum,  ada nilai-nilai tertentu yang harus meminta persetujuan oleh para wakil rakyat.  <\/p>\n<p>&#8220;Misalnya aset berupa motor. Masa motor 1 harus meminta persetujuan<br \/>\nDPRD. Jadi kita lihat nilainya dulu. Kalau aset diatas Rp. 5 miliar, itu baru minta persetujuan oleh DPRD. Selebihnya ada tim alih yang dibentuk oleh biro aset,&#8221;ungkap dia. <\/p>\n<p>Sebelumnya, Aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung berupa sebidang tanah di kawasan jalur dua jalan Pramuka Rajabasa, Bandarlampung raib.<\/p>\n<p>Lahan seluas 377 meter yang awalnya dikelola Biro Aset dan Perlengkapan Pemprov Lampung dan digunakan Kwarda Lampung itu telah berpindah tangan kepemilikan.<\/p>\n<p>Hasil penelusuran diketahui, lahan yang diatasnya terdapat warung soto dan bengkel itu diklaim oleh sejumlah tokoh masyarakat yang ada di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Lahan yang selama ini digunakan Kwarda Lampung tersebut selama ini sejak adanya gedung Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklatda) Intanpura itu tidak ada yang mengusik.<\/p>\n<p>Namun dalam prosesnya (beralih kepemilikan, red) terbit surat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Bandarlampung dengan nomor data fisik dan data yuridis : 704\/PFY\/\/PTSL\/2019 tanggal 09-08-2019 atas nama pemegang hak Abdul Razak Rais yang ditandatangani Kepala BPN Kota Bandarlampung Heru Alfaizal.,ST. MH.<\/p>\n<p>Salah satu sumber di Biro Aset dan Perlengkapan Pemprov Lampung mengatakan, pihaknya tidak mengetahui secara detil soal beralihnya aset berupa lahan seluas 377 meter tersebut.<\/p>\n<p>\u201cData itu sudah ada sejak lama, \u201d kata sumber itu singkat, Selasa (07-01-2020).<\/p>\n<p>Herni (58) pedagang soto yang menyewa lahan itu mengatakan kaget karena dirinya mendapat kabar bahwa lahan yang ditempatinya akan dibangun ruko.<\/p>\n<p>\u201cYa itu ternyata sudah di dp oleh orang yang membeli nya,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Warga komplek Rajabasa Indah ini juga mengaku baru beberapa bulan lalu tepat nya bulan November 2019 sudah memperpanjang sewa dengan pihak Kwarda Lampung.<\/p>\n<p>\u201cSaya bingung mau jualan di mana padahal sejak 10 tahun saya dagang tanah ini aman-aman saja,\u201d(dian)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (Journal):Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung mempertanyakan mekanisme dugaan peralihan aset pemerintah berupa tanah yang diklaim milik warga. &#8220;Kita lihat dulu prosedur dan mekanisme perpindahan itu seperti apa. Jadi bukan masalah boleh atau tidak boleh, tapi kita lihat dulu prosedurnya seperti apa,&#8221;kata Ketua DPRD Lampung, Mingrum Gumay, Selasa (14\/1). Soal aset pemerintah, kata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10431,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-10430","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bandarlampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10430","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10430"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10430\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10432,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10430\/revisions\/10432"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10431"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10430"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10430"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.journallampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10430"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}