Dari Sabda Nabi hingga Birokrasi: Mirza Bicara Hakikat Pemimpin
Lampung – Suasana Rapat Koordinasi Optimalisasi Aset & Inovasi Layanan di Kantor Gubernur Lampung, 5 Februari 2026, terasa berbeda. Di hadapan para aparatur pemerintahan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan pesan reflektif tentang makna kepemimpinan yang sesungguhnya—bukan semata soal anggaran atau jabatan, melainkan tentang cinta dan amanah.
Mengawali sambutannya, Mirzani mengutip sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:
“Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, dan rakyatnya pun mencintai dia.”
Kutipan tersebut menjadi fondasi utama pesannya, bahwa kepemimpinan bukan relasi kekuasaan, melainkan ikatan batin antara pemimpin dan rakyat.
Menurut Kiyay Mirza—sapaan akrab Rahmat Mirzani Djausal—perubahan adalah keniscayaan. Namun sebelum berbicara tentang adaptasi, pemerintah harus lebih dulu memahami posisi dan perannya.
“Kita ini sebagai apa di negara ini, di daerah ini, di birokrasi ini?” ujarnya.
Ia menegaskan, jabatan bukan simbol kehormatan, melainkan amanah untuk melayani. Baik mengelola APBD besar maupun terbatas, setiap pejabat dituntut memberi manfaat nyata bagi masyarakat Lampung.
“Allah Ta’ala memberi jabatan bukan untuk dibanggakan, tapi untuk dijalankan sebagai pelayanan,” katanya.
Dalam analoginya, pemerintah diibaratkan sebagai orang tua bagi masyarakat. Seperti ayah dan ibu yang memahami kebutuhan anaknya—apa yang disukai, apa yang menyakitinya, dan ke mana masa depannya diarahkan—begitu pula pemerintah terhadap rakyat.
“Kita ini orang tuanya masyarakat Lampung. Kita harus tahu, masyarakat ini mau kita jadikan apa,” ujarnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa pembangunan harus menunggu segala sesuatu serba lengkap. Menurutnya, orang tua tidak perlu menunggu kaya untuk mendidik anak. Hal paling mendasar justru adalah cinta.
“Syarat nomor satu untuk membangun itu cinta,” tegasnya.
Cinta itu, lanjut Mirza, akan melahirkan chemistry antara pemimpin dan rakyat. Dari sanalah kepercayaan tumbuh. Setelah kepercayaan terbangun, barulah perencanaan, eksekusi program, hingga kebijakan berbasis data dapat berjalan efektif.
Menutup sambutannya, ia kembali mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang keberuntungan orang-orang yang ditakdirkan Allah menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan. Pesan itu menegaskan bahwa jabatan adalah jalan pengabdian—bukan tujuan akhir, melainkan sarana menghadirkan manfaat. (***)
