Journal Lampung

Proporsional & Berimbang

Puncak Kepuasan Angler Dadakan Berakhir di Pulau Sebesi

Lampung Selatan (Journal) : Komunitas”angler” dadakan mendadak menjadi hobi baru bagi kalangan jurnalis dan sejumlah pemilik media online di Provinsi Lampung. Bahkan, jika boleh dikatakan “maniak” mungkin lebih tepat bagi kalangan kuli tinta tersebut. Dalam seminggu aktifitas memancing ini bisa dilakukan 2-3 kali, cukup mencengangkan bukan?

Kisah ini dimulai beberapa waktu lalu di Pantai Way Lunik, Kelurahan Way Lunik, Bandar Lampung. Sebanyak 9 jurnalis nampak bersemangat dengan peralatan memancing standar. Selama beberapa jam memancing, uji kesabaran dan konsentrasi menjadi pelajaran berat. Bicara soal ikan yang didapat? jangan deh, karena tujuannya hanya melepas kepenatan dari aktifitas keredaksian.

Selang beberapa hari kemudian, para pewarta itu bertolak menuju dermaga Ketapang di daerah Kabupaten Pesawaran. Sepanjang perjalanan kawasan wisata bahari itu, perdebatan menentukan “spot” menjadi topik seru, meski pada akhirnya 4 mahluk yang menumpang mini bus itu sepakat menginjakkan kaki di Dermaga Ketapang. Lagi-lagi hasil tak usah dipertanyakan bro, pasalnya hanya dua ekor ikan yang bersedia diberi makan.

Puncak dari penasaran yang mengalahkan rasa lelah demi mendapatkan lebih banyak hasil yang lebih, akhirnya terbayar di Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan. Kali ini, tim disebutkan dengan cukup lengkap. Sebanyak 10 awak media diantaranya Juniardi pemilik media sinarlampung.com, Erlan Kartadilaga dari Medinaslampungnews.co.id, Putri Fersi Bakoring intisari.com, Romzi owner lampungsai.com, Elka Mabella journallampung.com dan beberapa jurnalis lainnya sangat bernafsu melempar kail di kawasan Pulau Sebesi.

Jumat 26 Juli 2019 sekikat pukul 08.00 Wib, tim berkumpul di kediaman Juniardi dan tak lama langsung bertolak menuju Kota Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Kurang lebih satu jam perjalanan, dua mobil rombongan jurnalis siber ini tiba di Hotel Way Urang.

“Cari umpan cumi dulu bro di Dermaga BOM,” ujar salah satu anggota tim.

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Kedatangan tim disambut oleh sejumlah pengurus Serikat media Siber Indonesia (SMSI) Lampung Selatan yang memfasilitasi acara tersebut. Rasa lapar, haus dan asam ingin menikmati rokok sudah tidak tertahankan. Sekitar 1 jam beristirahat, akhirnya kami menuju ke Dermaga Canti.

Tiba di Dermaga Canti, beberapa calon penumpang lain yang akan menuju tempat yang sama sudah mulai antri dan berdatangan. Sembari menunggu nakhoda kapal, beberapa anggota tim mulai menyalakan rokok dan memesan kopi di warung yang terdapat di bibir dermaga tersebut.

Singkat kata, kapal pun berlayar menerjang ombak deras hamper setinggi dua meter sepanjang perjalanan menuju Pulau Sebesi. Rasa was-was dan takjub pun bercampur aduk.

“Serem coy ombaknya, pegangin gih,” celetuk Romzi yang duduk diatas geladak kapal bersama dua anggota tim lainnya.

Pemandangan mahal saat melintasi sejumlah pulau menjadi tontonan langka bagi anggota tim. Gugusan pulau, terumbu karang serta campuran warna air laut hijau dan biru membuat kami tersadar akan keindahan ciptaan Allah Subahana Wataalla.

Selama kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya kami merpaat ke Dermaga Pulau Sebesi. Cetret, krek,krekk bunyi kamera dari android mulai berlomba mendapatkan gambar terbaik.

Pulau Sebesi adalah sebuah pulau berpenghuni tepat di tengah Selat Sunda, dengan luas sekitar 2620 hektar dan terletak di wilayah Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Terletak di selatan perairan Lampung, lebih tepatnya di sebelah Timur Laut Gugusan Pulau Krakatau, sebelah selatan Pulau Sebuku, dan sebelah timur Pulau Serdang dan Legundi.

Tim penghobi memancing, di fasilitasi, Tim SMSI dan Media Lampung Selatan, mengunjungi Pulau Sebesi, Jum;at 26 Juli 2019 star di Dermaga Canti. Dermaga yang rusak terkena gelombang tsunami, dan di perbaiki Kodim Lampung Selatan.

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

“Dermaga ini waktu itu rusak, ini diperbaiki oleh tim TNI Kodim Lampung Selatan bersama warga. Jadi meski kondisi begini masih bisa dipungsikan untuk sandar perahu dan bongkar muat. Ini menjadi alternatif warga Sebesi pulang pergi,” kata warga di pelabuhan Canti, pukul 11.00.

Pulau Sebesi adalah Pulau terdekat dengan Gunung Anak Krataku, dan bisa melihat dari dekat Gunung Anak Krakatau yang menjulang di tengah laut. Di sekitarnya ada beberapa pulau-pulau lain namun tak berpenghuni.

Letak Pulau Sebesi yang dekat dengan gugusan Gunung Krakatau memiliki kisah pahit saat gunung tersebut meletus. Ledakan terbesar yang pernah terekam sejarah pada tanggal 27 Agustus 1883 pukul 10.20 Wib dan terdengar hingga radius 4600 km telah memakan 36.417 korban jiwa. Dengan daya ledak yang diperkirakan sebesar 30.000 kali bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, amukan Krakatau telah merenggut nyawa serta kehidupan di pulau tersebut.

Peristiwa memilukan itu sudah lama berlalu. Kini letusan abu vukanik membuat masyarakat Pulau Sebesi memiliki tanah pertanian yang sangat subur. Mereka berkebun dan sebagian besar menjadi petani. Hasil pertanian seperti kakao, kelapa dan pisang dijual ke kota untuk menghidupi keluarga.

Dengan perjalanan sekitar 90 menit, rombongan tiba di Pulau Sebesi, yang kini sudah memilik Dermaga yang lumayan bagus. Kokoh, Lebar dan luas serta di lengkapi lampu penerangan, terdapat Kantor Dinas Perhubungan. “Ini dermaga baru, yang dibangun pemerintah,” kata narkoda Kapal saat sandar.

Dermaga Pulau Sebesi ini berada di balik Gunung Anak Krakatau, jadi tidak begitu terdampak saat gejolak GAK waktu lalu. “Tsunami kemarin disini baik baik saja, karean Gunuk Kratau ada di balik sana. Pantai surut iya, tapi tidak terjadi apa apa disini. Yang terkena dampak, kampung yang di bagan kiri dan kanan sana,” katanya.

Desa Tejang Pulau Sebesi terdiri dari lima dusun yakni Dusun Gubuk Seng, Dusun Bangunan, Dusun Regahan Lada, Dusun Impress, dan Dusun Sigenom. Dan diantara kelima dusun tersebut konon Dusun Gubuk Seng memiliki panorama paling cantik. Dengan penduduk sekitar lebih dari 3000 jiwa. Selain nelayan, masyarakat Pulau Sebesi adalah penghasil bumi, Kakau, Lada, Kelapa, Pisang.

Meski tak sempat dikunjungi, Pulau Sebesi juga terdapat sebuah bukit yang disebut Gunung Sebesi setinggi 844 mdpl. Pengunjung dapat menyaksikan keindahan air terjun dan curug di sana. “Kampung Tua pulau Sebesi awalnya di atas bukit bang. Untuk menunju kesana aataau penduduk ingin turun perjalanan jalan kaki selama enam jam,” kata salah seorang wartawan Lampung Selatan.

Tim mendapatkan pasilitas kamar dan kasur untuk beristirahat di bangunan Cottage yang baru jadi, milik Dinas Pariwisata Lampung Selatan. Bangunan dengan dua kamar, dan ruang tamu yang lapang, serta disiapkan kasus busa untuk istirahat. Kabarnya penambahan Cottage Pulau Sebesi itu karena Pulau Sebesi menjadi salah satu pulau yang sedang dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata andalan Lampung Selatan selain Pulau Krakatau.

Sayang, kualitas bangunan itu terkesan asal jadi, sehingga sarana kamar mandi nyaris tak berfungsi meski closed duduk, dan dipasang shower, airnya mengalir kecil sekali. Untuk penjaga lokasi yang ramah membukakan kamar mandi Mushola yang banyak airanya. “Beginilah kondisinya pak, sarana terbatas. Kadang kami malu jika adaa tamu datang. Bonglam banyak tak menyala, saluran air banyak tak jalan,” katanya.

Hari malam pertama Jum’at 26 Juli 2019, rombongan memilih bersantai di dermaga dengan memancing. Sejak sore, terlihat aktifitas pelabuhan tak berhenti hingga tengah malam. Mobil carry bak terbuka melakukan bongkar muat kelapa dan pisang dan dimuat di Kapal untuk di angkut ke Jakarta. “Dari sini langsung dibawa ke Cilegon pak. Malam ini belum berangkat, karena angin kencang dan ombak besar, besok pagi baru berangkat,” katanya.

Memberi Makan dan Bermain Dengan Penyu Sisik

Sementara sebagian warga juga terlihat bersantai ria di dermaga, mereka memasukan pisang jenis muli ke laut di deramaga itu. Taka lama kemudian muncul puluhan kura kura penyu sisik. Mereka memakan pisang pisang itu. “Pagi atau sore hingga malam, kura kura ini datang. dan sudah tradisi disini, membagikan pisang yang paling disuka hanya pisang muli,” kata seorang pria baruh baya bersama anaknya.

Warga yang bongkar muat pun juga kerap memberi makan para penyu penu itu. “Dulu mereka berada di sekitar gunung anaka Krakau, sejak longsong dan suhu panas, mereka pindah kesini. Kalo kita mandi sore sore mereka juga berkumpul, dan bisa berenang bareng. Seperti sudah biasa kalo melihat banyak orang di dermaga mereka datang,” katanya.

Cottage bermalam Krakau 04, hanya berjarak 200 meter dari bibir pantai dan Dermaga. Disebelah kiri terlihat pulau kecil, yang disebut Pulau Umang. Sebelah kaman, pantai dermagaa lama yang sudah tak terpakai. Beberapa warung milik warga, yang kerap jadi tempat berkumpul anak anak muda menikamti kopi dan makanan ringan. “Warga tidak ada yang berani menangkap penyu itu. Karena ditangkap sama Polairud, dan bisa di denda,” katanya.

Gadget sempat low karena tak terisi. Apalagi suplai listrik di pulau Sebesi sangat terbatas. Pukul 00.00 off, dan harus di sambung genset. Jaringan listrik dari pulau Sumatera sulit menjangkau tempat tersebut. Pasokan listrik yang bersumber dari PLTD hanya tersedia mulai pukul 6 sore hingga 12 malam.

Angin laut malam itu kencang. Banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang apa yang ada di pulau ini. Cerita mereka yang berkunjung sebelumnya, rumah penduduk juga kerap dijadikan homestay bagi para pengunjung.

Karena sejak siang panas sinar matahari terasa menyengat sekali. Rasa penasaran juga keberadaan dengan Pulau Umang-umang yang berada persis di seberang Sebesi. Menurut warga sekitar, pemandangan matahari terbenam paling indah bisa disaksikan dari pulau itu namun tak satupu rombongan berkesempatan menyeberang ke sana. Padahal untuk menuju ke Pulau Umang-umang bisa menyewa perahu motor.

Sabtu 27 Juli 2019

Rencana menyewa kapal motor batal, karena terlalu lelap bangunnya pada kesiangan. Meski dengan terik matahari yang menyengat tim menyusuri pantai kanan dan kiri dengan membawa peralatan pancing, memancing pesisir pantai Pulau Legundi. Sekitar 500 meter ke arah kanan hingga Dermaga II, pantainya berwarna coklat.

Sayang, kebersihan belum terjaga sampah plastik mulai memehui pantai, dan kesadaran masyarakat untuk buang tinja belum diberdayakan. Banyak tinja berserakan di panjat. Lalu sebagian Tim memilih balik kanan menyusuri pantai kearah depan pulau umang. Sampah plastik juga berserakan hingga sepanjang sekitar 500 meter hingga batas muara yang menjadi saluran limbah rumah tangga.

Selanjutnya baru menemukan pantai yang bersih dan air laut yang begitu jernih. Menurut warga di sekitar pulau umang itu banyak ikan hiu jenis pari dan ikan ikan besar kerap bermain disana. Kerang kerang berbagai jenis rumah keong berbagai warga masih banyak berserakan, bertanda belum banyak tersentuh manusia, meski lahan lahan pesisir pantai konon sudah menjadi milik orang orang kaya dari luar, dan bukan milik warga Pulau Sebesi lagi.

Pulau Umang kerap menjadi Spot snorkeling. Air jernih dan karang alami, Ombak yang tak terlalu besar akan membuat pengunjung dapat menikmati pemandangan alam bawah laut Sebesi dengan tenang tanpa gangguan, dengan pemandangan alam yang masih asri. Bersantai di pantai Pulau Sebesi tradisinya sambil minum kelapa muda Pulau Sebesi yang langsung bisa di ambil dari pohonnya.

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Memancingnya juga seru, dapat ikan langsung di bakar di tepi pantai, dengan nasi pesan dari warung dermaga dengan layanan di antar ke tempat ngumpul Tim. Biasanya jika musim ikan, dan bertemu nelayan yang berhasil menangkap ikan, pengunjung bisa membelinya dan meminta tolong untuk dimasakkan.

Karena kehabisan umpan, Tim memilih untuk beristirahat MCK. Perjalanan pulang memilih menyusuri perkampungan. Menyusuri jalan setapak keluar dari bibir pantai melewati kebun Kakao dan Kebun Kelapa, di antara tanaman sela pohon pisang. Tapi tanah terlihat kering, tumpukan dahan dan ranting ada yang setinggi 25 cm. Kakau tak lagi berbuah.

Saat tiba di jalan utama terlihat debu tebal menyelimuti jalan tanah dengan bangunan paping yang sudah rusak. Paving blok sudah bertahun tahun itu tak juga di perbaiki. Padahal jalan itu satu satunya jalan utama dari dermaga Utama menuju dusun lain dan antar dusun. Tidak ada jalan aspal atau onderlagh disana. “Sudah hampir setahun Pulau Sebesi tak diguyur hujan bang. Dulu ada warga yang inisiatif, menggunakan mobil bawa air laut menyirami jalan jalan dusun. Tapi sekarang tidak lagi,” kata pemuda desa.

Perjalanan menuju cotteg juga melewati Perkampungan. Masyarakatnya begitu ramah menyapa. Setiap yang lalu lalang membawa belanjaan, hingga hasil bumi tersenyum dan menyapa Tim yang memang terlihat orang asing karena pendatang.

Rombongan sempat menghentikan perjalanan didepan satu satunya sekolah menengah atas (SMA) milik Yayasan Swadwipa, dan menikmati bakso khas Pulau Sebesi. Lumayan sedap untuk ukuran Tinggal di pulau yang jauh dari gemerlap kota. Tim tidak sempat ke Dusun Tiga Regahan Lada, yang sempat ditinggalkan penghuninya, karena tersapu tsunami dan sejumlah ternak yang kehilangan induknya.

Hampir semua insprastruktur jalan di Desa Tejang, Pulau Sebesi kembali menyatu menjadi tanah. Proyek irigasi yang ditemukan di beberapa titik itu bak tak berfungsi. Warga dekat pantai masih membuang sampah limbah rumah tangga ke saluran irigasi, yang mengalir ke sungai yang mengalir ke Laut.

“Ya, dulu kesadaran masyarakat dilakukan pembinaan. Tapi sekarang mulai pudah. Terkesan acuh dengan kesadaran lingkungan. Sayang jika ini tidak dilakukan pembinaan. Jika akan menjadi destinasi wisata. Karena insftstruktur harus juga diimbangin dengan sdmnya,” kata tokoh pemuda Desa Tejang.

Warga juga berharap ada keterlibatan masyarakat baik dalam pembangun pariwisata dan pembangunan desa mereka. Pembangunan yang ada ini adalah warisan Kades yang lama, yang sekarang tidak tahu. Karena masyarakat sebesi hanya menjadi pentonton di Kampungnya.

“Kami tidak pernah tahu dana desa untuk apa dan kemana. Banyak orang datang wisata, kami juga tidak tahu bagaimana mekanismenya, dan warga dapat apa. Tidak ada yang dapat dinikmati anak anak muda di Kampung ini untuk sebagai penghasilan,” katanya.

Pulau Sebesi memiliki banyak potensi wisata yang luar biasa. Dengan kekayaan laut dan Perkebunan, seharusnya masyarakat bisa hidup lebih layak. “Pulau Sebesi bisa menjadi Pulau Wisata seperti pulau pulau di luar Sumatera, jika dikelola dengan baik dan mengedepankan kearipan lokal,” kata salah satu Tim. (tim)



WhatsApp chat